Padamasa Orde Baru, pemerintahan menganut sistem yang sentralistik, yaitu mekanisme hubungan pusat dan daerah cenderung menganut sentralisasi kekuasaan. Dimana sistem ini akan membuat segala proses pembangunan atau pegambilan kebijakan segala sesuatu harus ditentukan oleh pemerintah pusat. Dan hal ini menyebabkan kesenjangan serta Civilsociety di Indonesia berakar dari gerakan oposisi pada masa Orde Baru, dari kelas menengah yang ingin memperjuangkan demokratisasi dan liberalisasi (Robison 1993:124). dan pemahaman tentang dunia khas. Cara pikir ditentukan bukan oleh orang-orang, tetapi ditentukan oleh struktur diskursif yang dominan pada masa itu. Struktur diskursif Pendidikandi Indonesia Pada Masa Orde Baru. Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar. perkembanganbisnis militer pada masa Orde Baru. Aktor-Aktor yang berperan dalam bisnis masa Orde Baru telah pula melakukan usaha bisnis sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh panglima TT-lV/Diponegoro di Jawa Tengah, Suharto. Pada Januari 1957, Suharto membentuk Yayasan Pembangunan Teritorium Empat dengan tujuan mengadakan Padatanggal 28 September 1966, Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ikut Memprakarsai Pembentukan ASEAN. Berdirinya ASEAN ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967. Pada masa Orde Baru, pemerintah melakukan penyederhanaan dan penggabungan (fusi) partai-partai politik menjadi TEORIKEKUASAAN NEGARA POLA RELASI KEKUASAAN DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU HINGGA ERA REFORMASI Disusun oleh: Anggina Mutiara Hanum 1406517960 PASCA SARJANA DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2014 I. KONSEP KEKUASAAN Proses politik dalam Ilmu sosial bisa dianalisa melalui konsep kekuasaan, 1 berangkat dari aspek espitemologi ilmu sosial RYH2B1. 0% found this document useful 0 votes4K views7 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes4K views7 pagesMenguatnya Peran Negara Dan Dampak Bagi Masyarakat Pada Masa Orde BaruJump to Page You are on page 1of 7 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 6 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. 1. Militer dan Golongan Karya di Zaman Orde baru Pada dasarnya peran Negara pada masa Orde baru ditentukan oleh kekuatan militer, Golkar, dan bantuan Luar Negeri. Struktur kinerja Negara sangat kuat karena didukung oleh pemusatan dan penguatan tiga sector utama yaitu militer, ekonomi, dan budaya. a. Militer di Zaman Orde baru Pembuatan militer di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa pendudukan Jepang di Indonesia. Jepang membentuk PETA yang awal tujuannya guna membantu Jepang menghadapi perang Asia Timur Raya. Kemudian bias kita lihat kiprah militer dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seperti misalnya Jendral Soedirman ketika bergerilya melawan Belanda, kondisi Beliau yang sakit parah tidak dirasakan, dihiraukan, namun terus berjuang dengan semangat yang tinggi. Menurut Salim Said pakar militer menguatnya peran militer dipicu oleh melemahnya kekuatan-kekuatan politik dan pemerintahan semenjak adanya perubahan system pemerintahan Indonesia pada bulan November 1945. Pada masa Orde Lama, kekuatan ABRI terpecah-pecah akibat politik devide et impera sehingga dapat diletakan kekuatan kaumpolitisi di atas golongan militer. Kemudian dilingkungan antarangkatan terlihat adanya perpecahan dan persaingan. Maka pada masa Orde Baru hal tersebut berusaha untuk dihilangkan melalui tiga macam pendekatan, yaitu 1 Pendekatan Mental Penekanan diletakkan pada bidang pendidikan. Pendidikan yang terintegrasi dimulai tingkat pendidikan perwira dan tingkat lebih lanjut. Untuk melaksanakan hal itu dibentuklah wadah pendidikan baru yaitu AKABRI 2 Pendekatan Doktrin Dahulu doktrin ABRI antarangkatan berbeda-beda, misalnya Angkatan Udara “Swabhuwana Paksa” Sayap Tanah Air, Angkatan Darat “ Tri Ubaya Cakti” Tiga Tekad Sakti, Angkatan Laut “ Eka Sasana Jaya” satu doktrin yang menang, dan untuk Polri “ Tata Tentrem kerta Raharjo. Kemudian doktrin ABRI disempurnakan menjadi satu doktrin yaitu doktrin Hankamnas dan doktrin perjuangan ABRI “Catur Darma Eka Karma” empat pengapdian dengan satu perjuangan suci Sedangkan menguatnya militer dalam bidang pemerintahan dan sosial kemasyarakatan ada dua Faktor 1 Konsepsi Jalan Tengah yang dikeluarkan Nasution bulan November 1958 Konsepsi ini menjadi awal dari wacana dwifungsi ABRI 2 Momentum pemberontakan G 30/S PKI yang dilakukan oleh militer bersama rakyat. Keberhasilan Soeharto dalam pemimpin penumpasan G 30 S/PKI, menjadi bukti bahwa militer memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk mewujudkan kondisi keamanan Negara dan masyarakat. Sejak saat itu militer dimata rakyat semakin tinggi. b. Golongan Karya Golkar di Era Orba Pada awalnya Golkar bersama Sekretariat Bersama Golongan Karya Sekber Golkar organisasi yang berdiri sebagai front anti komunis. Pada awal pendiriannya Organisasi ini memiliki hubungan erat dengan elemen pemuda, wanita, serta militer. Mereka bersama-sama menggalang kekuatan guna melawan kekuatan komunis di negeri ini. Golkar tidak mau disebut sebagai partai politik karena 1 Golkar ingin membawa semangat anti-ideologi partai 2 Golkar melihat bahwa dengan berdasar pada semangat anti-ideologi partai, Golkar tidak akan bersifat mengarah ke gerakan-gerakan yang bersifat radikal, melainkan sebagai organisasi masyarakat. Keterkaitan antara Golkar dengan Presiden Soeharto dilatarbelakangi oleh kedekatan keduanya pada masa penentangan kekuatan komunis di periode awal tahun 1960-an. Kemudian setelah Pemilu tahun 1971 golkar menang mutlak atas kekuatan politik lainnya. Menguatnya posisi Golkar pada masa pemerintahan Orba menunjukkan kuatnya peran pemerintah dalam menentukan kehidupan masyarakat. 2. Eksistensi Dana bantuan dan Hibah Luar Negeri Indonesia di Era pemerintahan Soeharto membuka masuknya bantuan dana dari Luar Negeri. Sehingga pada awal pemerintahannya Indonesia sudah dihadapkan pada hutang luar negeri sebesar USS 2,3 milliar. Untuk mengatasinya Soeharto mengadakan dialog dengan Negara-negara Barat dan Jepang untuk menurunkan dana bantuan Luar Negeri. Kemudian dibentulah IGGI yang bertugas mengkoordinasi program dana bantuan bagi Indonesia dengan pimpinan Negara Belanda. Sementara di Indonesia dibentuk Bappenas yang dipimpin oleh Widjojo Nitisastro, badan ini bertugas mengalokasikan dana bantuan luar negeri kepada program-program pembangunan nasional. Strategi Soeharto dalam mengalokasikan dana bantuan luar negeri guna mensejahterakan rakyat di satu sisi membuat rakyat semakin maju dan sejahtera namun disisi lain dana bantuan luar negeri semakin banyak dan lambat laun jatuh tempo. Tahun 1990 hutang luar negeri dan bunyanya mencapai USS 54 millyar. Berbagai maslah melanda Orde Baru semakin banyak lagi setelah krisis moneter melanda wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dibawah ini akan dijelaskan materi mengenai perkembangan masyarakat indonesia pada masa orde baru, menguatnya peran negara pada masa orde baru, pemerintahan orde baru, ciri ciri pokok kebijakan pemerintahan orde baru, meningkatnya peran negara pada masa orde baru, peran negara pada masa orde baru. Melalui Pemilu, rakyat dapat menggunakan hak politiknya untuk memilih calon-calon wakilnya yang akan duduk dalam lembaga perwakilan rakyat. Pemilihan umum mempunyai fungsi dan tujuan yang amat penting dalam rangka menegakkan demokrasi di suatu negara. Fungsi pemilihan umum yang pokok adalah sebagai berikut. Pemilihan umum adalah sarana untuk menyalurkan hak politik warga negara sesuai dengan pilihan agar aspirasinya dapat tersalur melalui wakilnya yang terpilih. Pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan asas kedaulatan rakyat dalam suatu negara. Pemilihan umum berfungsi sebagai sarana untuk menegakkan pemerintahan yang demokratis karena melalui Pemilu rakyat dapat memilih para wakilnya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Partai-Partai Peserta Pemilu Tahun 1971 Selain fungsi di atas, pemilihan umum juga memiliki tujuan, antara lain 1. memilih anggota-anggota DPR, DPRD I, dan DPRD II; 2. menyalurkan aspirasi rakyat melalui wakilnya secara konstitusional; 3. membentuk susunan keanggotaan MPR. Dalam upaya memurnikan demokrasi Pancasila, sejak Pemilu tahun 1971 dasar yang dipakai adalah Pancasila dan UUD 1945. Di dalam sistem demokrasi Pancasila Pemilu berasas langsung, umum, bebas, dan rahasia. Tujuannya pun sesuai dengan UUD 1945, yaitu memilih anggota-anggota DPR, DPRD I, DPRD II, dan mengisi keanggotaan MPR. Begitu pula waktu penyelenggaraan Pemilu sudah memenuhi aturan UUD 1945, yaitu setiap lima tahun sekali. Hal yang demikian itu belum bisa dilaksanakan pada masa Orde Lama. Dalam rangka membersihkan aparatur negara dan tata kehidupan bernegara dari unsur-unsur PKI dan segala ormasnya, pemerintah tidak memberi hak pilih kepada bekas anggota PKI dan segala ormasnya yang terlibat G 30 S/PKI. Ketegasan sikap ini sangat penting dalam rangka tetap mewaspadai bahaya laten PKI dan penyusupan ideologinya. Namun, sikap waspada dan kehati-hatian pemerintahan Orde Baru itu sangat kebablasan yang menyebabkan peran negara makin membelenggu berbagai aspek kehidupan masyarakat. Istilah pembangunan, atas nama rakyat, stabilitas, dan pertumbuhan menjadi jargon yang dilontarkan pemerintahan Orde Baru. Untuk mencapai tujuan semua itu, negara mengambil peran besar yang sangat menentukan dengan menempatkan pada tangan presiden. Sebetulnya, secara semu pemerintahan Orde Baru mirip pada masa Indonesia melaksanakan Demokrasi Terpimpin. Hanya pejabat presidennya saja yang ganti, sistemnya tetap sama. Orde Baru dengan motor penggerak Golongan Karya Golkar dan ABRI berusaha mengambil peranan yang lebih besar pada aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan mengatasnamakan negara. Golkar yang dibina oleh Presiden Soeharto terus berusaha mengamankan posisi pemerintahan sejak Pemilu 1971. Golkar menjadi partai pemenang Pemilu 1971 dan berusaha untuk mempertahankannya. Tap. MPRS No. XLII/MPRS/ 1968 tentang perubahan Tap. MPRS No. XI/MPRS/1966 tentang Pemilihan Umum masih diikuti banyak partai. Ada sepuluh partai peserta pemilihan umum 1971. Akibat penyederhanaan peserta Pemilu oleh negara pada Pemilu 1977 sampai akhir masa pemerintahan Orde Baru hanya diikuti tiga kontestan. Partai peserta Pemilu itu terdiri atas Golongan Karya, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Pembangunan. Dua partai kecil, yaitu Partai Demokrasi Indonesia dan Partai Persatuan Pembangunan hanyalah partai penggembira dan partai pelengkap dari sistem demokrasi model Indonesia, yaitu Demokrasi Pancasila. Stabilitas menjadi unsur penting dalam melaksanakan pembangunan. Untuk itu, pemerintah Orde Baru berusaha menciptakan stabilitas dengan berusaha mengendalikan lawan-lawan politiknya. Aparatur negara harus benar-benar setia dan patuh pada pemerintahan yang berkuasa yang dikamuflasekan sebagai penjelmaan dan atas nama rakyat. Untuk itu, lahir organisasi Korpri Korps Pegawai Republik Indonesia untuk wadah para pegawai pemerintah. Pemerintah juga membentuk berbagai organisasi untuk berbagai profesi, kelompok masyarakat, dan mahasiswa. Muncul organisasi SPSI Serikat Pekerja Seluruh Indonesia untuk buruh, PGRI Persatuan Guru Indonesia untuk guru, KNPI Komite Nasional Pemuda Indonesia untuk para pemuda, PWI Persatuan Wartawan Indonesia untuk para wartawan dan masih banyak lagi. Semua organisasi sosial kemasyarakatan itu, sayangnya arah pembentukannya hanya ditujukan untuk melanggengkan kekuasaan pemerintah. Caranya pada setiap pelaksanaan Pemilu mereka diarahkan dan diwajibkan untuk memilih Golkar bukan diberi kebebasan untuk memilih. Pemilihan Orde Baru juga seakan-akan ketakutan dengan ideologi komunis. Pancasila dijadikan alat negara yang ampuh untuk menghantam ideologi komunis. Untuk lebih memasyarakatkan Pancasila dan dengan dalih mencegah berkembangnya komunis di tengah masyarakat, mulai tahun 1978 dengan ketetapan MPR dikeluarkan penjabaran Pancasila yang dikenal sebagai Eka Prasetya Pancakarsa atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila P-4. Semua aspek kehidupan bermasyarakat harus bersendikan Pancasila dan P- 4. Setiap pelajar, mahasiswa, masyarakat, dan pegawai pemerintah wajib mengikuti penataran P-4 agar wawasan dan cara berpikir mereka seragam untuk mendukung pemerintah Orde Baru. Sertifikat kelulusan hasil penataran P-4 menjadi dokumen penting. Pada pemerintahan Orde Baru, ABRI juga menempati posisi penting dalam kehidupan bernegara. ABRI memang memegang kendali sejak penumpasan G 30 S/PKI dan adalah kebetulan sekali kalau kepala pemerintahan Indonesia adalah mantan militer. Melalui konsep dwifungsi, ABRI merupakan kekuatan signifikan dalam percaturan politik Indonesia. Mereka banyak yang ditunjuk menjadi anggota MPR. Dengan memanfaatkan dwifungsi ABRI ini, Orde Baru telah berhasil melegitimasi kekuasaan. Melalui pemikiran Prof. Dr. Wijoyo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardana, Prof. Dr. Sumitro Joyohadikusumo, Drs. Radius Prawiro, Prof. Dr. Ir. Moh. Sadli, Prof. Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Prof. Dr. Subroto hasil pendidikan dari Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat berhasil menata kembali struktur ekonomi Indonesia yang morat-marit. Karena orientasi pemikiran ekonomi Indonesia yang selalu bertumpu pada para alumnus Berkeley tersebut menyebabkan mereka dijuluki Mafia Berkeley. Berdasarkan hasil pemikiran para ekonom lulusan Berkeley tersebut, Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru berhasil mengatasi krisis ekonomi yang diderita. Banyak modal asing datang, industri berkembang pesat, dan muncul kesempatan kerja. Indonesia juga menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan dunia, seperti Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia World Bank. 0% found this document useful 0 votes1K views3 pagesOriginal TitleProses Menguatnya Peran Negara Pada Masa Orde ILMICopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes1K views3 pagesProses Menguatnya Peran Negara Pada Masa Orde Baru - Docx ILMIOriginal TitleProses Menguatnya Peran Negara Pada Masa Orde ILMIJump to Page You are on page 1of 3Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. 50% found this document useful 2 votes4K views3 pagesDescriptionmenguatnya peran negara mempunyai dampak besar pada masa pemerintahan orde baruCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?50% found this document useful 2 votes4K views3 pagesDampak Menguatnya Peran Negara Pada Masa Pemerintahan ORDE BARUDescriptionmenguatnya peran negara mempunyai dampak besar pada masa pemerintahan orde baruFull description

menguatnya peran negara di masa orde baru ditentukan oleh