Berikutdata lengkap tentang Cara Menanam Kacang Hijau Menggunakan Tanah. Tak hanya memikirkan kandungan dalam tanah. Cara menanam kac
CobalahMengintegrasikan Kerikil Kacang dengan Batu Lain di Lanskap Anda. Jangan Aplikasikan Kerikil Kacang Langsung di Atas Tanah. Jadilah Kreatif dengan Lansekap Kerikil Kacang Anda. Jangan Lupakan Bahan Tepi. Beli Kerikil Kacang dari Pemasok Batu. Jangan Berhemat pada Kedalaman. Bagaimana Anda menyingkirkan kerikil kacang?
5LJO. Kacang tanah merupakan tanaman polong-polongan yang termasuk dalam golongan komoditi pangan terbesar di Indonesia. Umumnya petani masih menggunakan cara tradisional dalam perontokan kacang tanah sehingga mempunyai kapasitas kecil dan membutuhkan banyak tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah melakukan rancang bangun alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal yang mempunyai kapasitas besar. Metode penelitian dimulai dari identifikasi masalah dan penyempurnaan ide rancangangan alat perontok kacang tanah. Kemudian dilakukan pembuatan alat, uji fungsional dan uji kinerja. Terakhir dilakukan analisa ekonomi. Hasil uji kinerja alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal diperoleh kapasitas alat 22 kg/jam, rendemen 41% persentase kacang tidak terontok presentase buah rusak dan laju pengumpanan 58 kg/jam. Hasil analisa ekonomi teknik diperoleh break event point BEP pengoperasian alat input 284 kg/tahun dan break event point BEP pengoperasian alat output 408,60 kg/tahun. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Agroteknika+31+56-66+2020+ISSN!2685-3450!Online!Diterima16April2020Disetujui29Juni2020Diterbitkan29Juni2020Doi Bangun Alat Perontok Kacang Tanah Arachis hypogaea L. Semi Mekanis Tipe Vertikal Design of Vertical Type Semi-Mechanical Peanut Arachis hypogaea L. Thresher Ajri Mai Ihsan*, Zul Ariyandi, Sandi Wisaputra, Zulnadi, Amrizal, Fithra Herdian, Mohammad Riza Nurtam, Fanny Yuliana Batubara, Angga Defrian Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Indonesia *Penulis Korespondensi Email ajrimaiihsan Abstrak. Kacang tanah merupakan tanaman polong-polongan yang termasuk dalam golongan komoditi pangan terbesar di Indonesia. Umumnya petani masih menggunakan cara tradisional dalam perontokan kacang tanah sehingga mempunyai kapasitas kecil dan membutuhkan banyak tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah melakukan rancang bangun alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal yang mempunyai kapasitas besar. Metode penelitian dimulai dari identifikasi masalah dan penyempurnaan ide rancangangan alat perontok kacang tanah. Kemudian dilakukan pembuatan alat, uji fungsional dan uji kinerja. Terakhir dilakukan analisa ekonomi. Hasil uji kinerja alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal diperoleh kapasitas alat 22 kg/jam, rendemen 41% persentase kacang tidak terontok presentase buah rusak dan laju pengumpanan 58 kg/jam. Hasil analisa ekonomi teknik diperoleh break event point BEP pengoperasian alat input 284 kg/tahun dan break event point BEP pengoperasian alat output 408,60 kg/tahun. Kata kunci alat perontok, kacang tanah, semi mekanis Abstract. Peanuts are legumes that are among the largest food commodity groups in Indonesia. Generally, farmers still use the traditional method of threshing peanuts so that they have a small capacity and require a lot of labor. The purpose of this study was to design a vertical type semi-mechanical groundnut thresher tool that has a large capacity. The research method starts with the identification of problems and perfecting the idea of designing peanut thresher tools. Then do the making of tools, functional tests, and performance tests. Lastly, carry out the economic analysis. The results of performance tests of vertical type semi-mechanical groundnut thresher gained 22 kg/hour capacity, the yield of 41% percentage of peanut not threshing percentage of damaged fruit and feed rate of 58 kg/hour. The results of technical economic analysis obtained the break event point BEP operating the input tool 284 kg/year and the break event point BEP operating the output tool kg/year. Keywords thresher tool, peanut, semi-mechanical Agroteknika+31+56-66+2020 57 1. Pendahuluan Benua Amerika, khususnya dari Brazilia merupakan asal dari tanaman kacang tanah Arachis hypogaea L. Suprapto, 2005. Prioritas kedua sering diterima kacang tanah untuk dikembangkan dan ditingkatkan produksinya setelah padi. Meningkatnya kebutuhan pangan, bahan baku industri dan pakan ternak merupakan salah satu hal ini Sumarno, 1986. Proses perontokan umumnya dilakukan dengan cara manual menggunakan tangan manusia. Cara ini mempunyai keuggulan dari mutu kacang tanah yang dihasilkan akan berbentuk sempurna dan tidak pecah. Perontokan dengan cara manual memerlukan tenaga kerja yang banyak dan waktu lama. Tenaga kerja yang diperlukan untuk perontokan kacang tanah sekitar 41 HOK/ha dengan kemampuan kerja perontokan sekitar 2-4 kg polong /jam/orang Antarno, 1992. Perontokan kacang tanah harus dilakukan secepat mungkin setelah pemanenan yang memilki kadar air polong berkisar 20-24%. Tetapi jika dipanen lebih awal maka kadar air polong lebih tinggi berkisar 28-34% Purwadaria, 1991. Iqbal, Suhardi, and Nirisnawati 2018 telah melakukan penelitian mesin perontok multiguna dengan putaran mesin terbaik 2500 rpm. Semakin tinggi kecepatan putaran mesin maka tingkat kerusakan gabah juga akan semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rancang bangun alat perontok kacang tanah tipe vertikal. Pada mesin ini akan dilakukan analisa kinerja untuk melihat kemampuan dan kapasitas. Pada mesin ini juga dilakukan analisa ekonomi teknik untuk melihat nilai ekonomis. 2. Bahan dan Metode Tabel 1 merupakan daftar bahan bahan yang di perlukan dalam pembuatan alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal. Tabel 1. Bahan pembuatan alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal Agroteknika+31+56-66+2020 58 Metode Penelitian Metode penelitian dimulai dari identifikasi masalah dan penyempurnaan ide rancangangan alat perontok kacang tanah. Kemudian dilakukan pembuatan alat, uji fungsional dan uji kinerja. Terakhir dilakukan analisa ekonomi dengan menghitung break event point BEP . Alur metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram alir metode penelitian Rancangan Alat Rancang struktural adalah menjelaskan tentang dimensi atau ukuran dari setiap komponen alat perontok kacang tanah. Kerangka terbuat dari besi siku yang berukuran 4x4 cm dengan ukuran panjang 56 cm, tinggi 65 cm, lebar 36 cm dan memiliki alas dengan menggunakan plat besi 2mm dngan ukran 8x8 cm. Adapun gambar rancangan kerangka alat perontok kacang tanah dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Kerangka perontok kacang Agroteknika+31+56-66+2020 59 Komponen perontok terdiri dari vlag sepeda motor berukuran 17 inci dengan poros 2,5 inci yang sudah di modifikasi dan jari jari sepeda motor berfungsi sebagai mata pisau. Gambar 3 dari roda penggerak. Gambar 3. Bagian vlag dan jari-jari Inlet merupakan tempat pemasukan kacang yang mau dirontok. Inlet terbuat dari besi plat aluminium dengan tebal mm dengan dimensi yang tertera pada Gambar 4. Gambar 4. Bagian inlet Outlet merupakan bagian untuk tempak pengeluaran dari kacang tanah yang sudah dirontok. Yang terbuat dari besi plat aluminium yang tebal mm dengan dimensi yang tertera pada Gambar 5. Gambar 5. Bagian outlet Agroteknika+31+56-66+2020 60 Sistim penyaluran daya yang berasal dari pegal penggerak, dimana pedal penggerak di injak menggunakan kaki. Pedal penggerak terbuat dari plat siku 3x3 cm dan plat besi tebal 2 mm, adapun dimensi dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Bagian pedal penggerak Pengumpan kacang tanah terbuat dari plat besi yang tebal 2 mm adapun dimensinya dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Bagian pengumpan Transmisi terdiri dari gear sepeda motor dengan ukuran 5 inci dan rantai yang dihubungkan dengan pedal penggayuh dan karet ban mobil, adapun dimensinya dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8. Transmisi alat Disain alat perontok kacang tanah semimekanis tipe vertika dapat di lihat pada Gambar 9. Agroteknika+31+56-66+2020 61 Gambar 9. Disain alat secara keseluruhan Prinsip Kerja Alat perontok kacang tanah merupkan suatu alat untuk memisah polong kacang tanah dari tangkainnya mengunakan roda dan jari-jari sepeda motor yang sudah di modifikasi sebagi mata perontok polong kacang. Alat ini menggunakan pedal dengan cara diinjak menggunakan kaki sebelah kanan sebagai sumber putaran. Daya putaran yang dihasilkan pedal di salurkan ke poros menuju roda sepeda motor sehingga roda sepeda motor dapat berputar. Pada saaat roda sepeda bergerak maka diambil tangkai kacang tanah dan dekatkan dengan jari-jari sepeda motor, disaat roda berputar maka kacang tanah yang semula ada pada tangkainya satu persatu akan teeontok dari tangkai, setelah terpisah dari tangkainya kacang tanah langsung menuju outlet untuk keluar dari alat. 3. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini menghasilkan alat perontok kacang tanah semi mekanis yang mempunyai spesifikasi sebagai berikut Panjang alat 56 cm Lebar alat 36 cm Tinggi alat 97 cm Kemiringan outlet 30˚ Panjang outlet 61 cm Lebar outlet cm Tinggi outlet bagian belakang 12 cm Inggi outlet bagian depan 63 cm Pengayuh pedal 49 cm x 10 cm Agroteknika+31+56-66+2020 62 Diameter inlet 56 cm Lebar inlet 15 cm Lubang pada inlet 13 cm Penyetel laju 12 cm x x Berat alat 12 kg Diameter gear 5 inc Diameter tromol inc Diameter Roda sepeda 17 inc Panjang dan lebar karet 29 cm x cm Alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10. Alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal Keterangan gambar 1. Kerangka 2. Inlet 3. Outlet 4. Roda sepeda 5. Pedal injak 6. Karet ban mobil 7. Sporket sepeda motor 8. Pengumpan 9. Bearing UCV 10. Alas Krangka Uji Kinerja Pengujian alat perontok kacang tanah dilakukan dengan cara 3 tiga kali pengujian dan bahan baku untuk pengujian yaitu kacang tanah seberat 8,8 kg. Hasil pengujian alat seperti pada Tabel 1. Agroteknika+31+56-66+2020 63 Tabel 1. Hasil pengujian alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal Berat tangkai setelah terontok kg Berat kacang tidak terontok kg Dari Tabel 1 pengujian alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal, maka dapat ditentukan kasitas alat yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kaspasitas alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal Persentase buah kacang tidak terontok % Persentase buah rusak % Laju pengumpanan kg/jam Analisa Ekonomi Penelitian ini melakukan analisa ekonomi yang bersumber pada Kodoatie 2005 dan telah digunakan pada penelitian Adam et al., 2020; Novita et al., 2019; Womsiwor et al., 2018 . Dalam analisa biaya alat perontok kacang tanah ini diasumsikan sebagai berikut Harga jual P = Rp Jumlah jam kerja/hari = 8 jam/hari Perkiraan umur Alat N = 3 Tahun Persentase bunga modal/tahun I = 12% /Tahun Harga akhir S = 10% x P Upah operator = Rp. Jumlah operator = 2 Orang Jumlah hari kerja/tahun = 300 hari/tahun Jumlah jam kerja/tahun X = jam/tahun Upah/Sewa alat R = Rp. Kapasitas alat C = 22 Kg/Jam Agroteknika+31+56-66+2020 64 Biaya tetap Biaya tetap merupakan biaya yang independen terhadap waktu pemakaian alat, artinya biaya tetap dikeluarkan walaupun alat dan mesin tidak dioperasikan Novita & Anas, 2016. Biaya tetap alat perontok kacang tanah ini meliputi Biaya penyusutan D D = P - SN= Rp. – Rp. Tahun = Rp. Keterangan D = Biaya penyusutan Rp/tahun P = Harga awal mesin Rp S = Harga akhir Rp / 10% x P N = Perkiraan umur ekonomis tahun Bunga modal I Bunga modal dihitung dengan tujuan untuk memudahkan dalam perhitungan pengembalian nilai modal yang ditanam pada alat atau mesin sehingga Present value dan nilai modal yang ditanam sama. Bunga modal = iPn+12n = !"$%&'*$+,-!./ = Keterangan I = Bunga modal Rp/tahun i = Suku bunga bank %/tahun Biaya tetap BT = Biaya penyusutan + Bunga modal = Rp. + = Rp. Biaya tidak tetap Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan hanya jika alat dan mesin dioperasikan sehingga disebut juga dengan biaya operasi. Jam pemakaian alat dan mesin mempengaruhi biaya ini Novita & Anas, 2016. Upah operator Upah operator = Upah Rp x Jumlah operatorJam kerja /hari = Rp. x 28 jam/hari = Biaya tidak tetap BTT = Upah Operator = Biaya Kerja BK= BTX + BTT= $, Rp. = Rp. Agroteknika+31+56-66+2020 65 Biaya Pokok Biaya pokok merupakan biaya yang diperlukan oleh suatu alat untuk setiap unit produksi Novita & Anas, 2016. Biaya pokok dapat dihitung dengan rumus Biaya pokok input BP = BKLP58 kg/jam = /kg Biaya pokok output BP = BKC= 22 kg/jam= /kg Keterangan BP = Biaya pokok Rp/buah X = Jumlah jam kerja jam/tahun C = Kapasitas mesin buah/jam Break event point BEP Operasional Alat BEP yaitu alat atau mesin yang berada pada kondisi tidak untung dan tidak juga rugi atau kondisi saat jumlah pendapatan sama besar dengan jumlah biaya operasional. $Break event point BEP operasional alat input BEP = BTR - ABTTLP B = , - A58 kg/jam B = 284 Kg/Tahun Break Event Point BEP Operasional Alat output BEP = BTR - ABTTCB = , - A22 kg/jam B = 409 Kg/Tahun Keterangan BEP = Break event point buah/tahun R = Upah/Sewa alat Rp/buah 4. Kesimpulan Alat perontok kacang tanah memiliki panjang 56 cm, lebar 36 cm, tinggi 97 cm, panjang outlet 61 cm, lebar 21,5 cm, diameter inlet 56 cm, lebar inlet 15 cm, diameter gear 5 inci, diameter roda perontok 17 inci, dengan berat alat 12 kg. Berdasarkan uji kinerja alat diperoleh kapasitas alat yaitu 22 kg/jam, rata-rata rendemen 41%, rata-rata kacang tidak terontok rata-rata buah rusak laju pengumpanan 58 kg/jam dan rata-rata kecepatan sumbu putarnya 252 Rpm. Hasil ini lebih besar jika dibandingkan dengan perontokan kacang tanah dengan cara manual yang memilki kapaitas 2-4 kg/jam. Berdasarkan analisa ekonomi yang dilakukan, didapat harga jual alat dengan biaya pokok input /kg, biaya pokok output /kg dan break Agroteknika+31+56-66+2020 66 event point BEP pengoperasian alat input 284 kg/tahun dan break event point BEP pengoperasian alat output 408,60 kg/tahun. Daftar Pustaka Adam, M., Sardino, S., Winaldi, D., Candra, S., Yunika, F., Riko, R., Novita, S., Herdian, F., Hendra, H., & Laksmana, I. 2020. Rancang Bangun Dan Analisa Alat Pencuci Wortel Tipe Drum. Lumbung, 191, 13-29. Antarno. 1992. Pengembangan Mekanisasi Pertanian Dalam Rangka Mempertahankan Swasebada Produksi Beras sampai dengan tahun 2000 di Jawa Timur. 1-11. Risalah Seminar Hasil Pertanian Tanaman Pangan Tahun 1991. Balittan. Malang. Iqbal, I., Suhardi, S., & Nirisnawati, S. A. 2018. Uji Unjuk Kerja Alat Dan Mesin Perontok Multiguna Multipurpose Power Thresher Performance Test. Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem, 61, 12-16. Kodoatie, R. J. 2005. Analisis Ekonomi Teknik. Penerbit Andi Yogyakarta. Yogyakarta. Novita S. A. & A, Irwan. 2016. Buku Kerja Praktek Mahasiswa BKPM Alat mesin pasca panen. Payakumbuh, Indonesia Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Novita, S., Hendra, H., Jamaluddin, J., Makky, M., & Fahmi, K. 2019. Design and Performance Test of Rubber Grinding Machine. Journal of Applied Agricultural Science and Technology, 32, 299-308. Purwadaria, 1991. Teknologi penanganan pasca panen kacang tanah. Pusat Pengembangan Teknologi Enjiniring Pertanian Tepat Guna. Depertemen Pertanian. Sumarno. 1986. Teknik Budidaya Kacang Tanah. Bandung Penerbit Sinar Baru. Suprapto, 2005. Bertanam Kacang Tanah. Jakarta, Indonesia Penebaran Swadaya. Womsiwor, O., Nurmaini, N., Zikri, A., Hendra, H., Amrizal, A., Yudistira, Y., & Batubara, F. 2018. Rancang Bangun Mesin Pengupas Dan Pencuci Singkong Tipe Horizontal. Journal of Applied Agricultural Science and Technology, 22, 11-19. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this quality of rubber processed materials, that is produced by the farmer is generally low and can be seen from their colour, pollutants levels, foul odour and the very cheap price. To improve the quality of the rubber should be done both in terms of its treatment and processing equipment. The main objective of this research is to enhance and improve the quality of farmer's rubber processed materials by using natural coagulant which liquid smoke to agglomerate the rubber, and designing of rubber grinding machine. The component of rubber grinding machine including hopper, regulating entry materials, three rollers, pulleys and belt, outlet, gears, engine, regulating the thickness and chassis. In this research, the thickness rubber after grinding is 3-5 mm accordance with Indonesian National Standard rubber. Processed material rubber produced is white and no pollutants. The coagulant used was liquid smoke with a concentration of 10 -20%, where this addition affects the agglomeration speed of rubber and smelled slightly of smoke. The average rate of Feed is kg / h, a capacity of the machine is kg/hr and cost of operation is Rp. 650 / Ona Oktarian WomsiworNurmaini NurmainiAfdal ZikriFanny Yuliana BatubaraSingkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi dan jagung bagi masyarakat indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah tropis dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi berbagai tanah. Pada tahun 2011 produksi singkong di Indonesia mencapai ton, sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi ton. Salah satu olahan pangan yang berasal dari singkong adalah keripik singkong. Keripik adalah jenis makanan yang sudah dikenal masyarakat indonesia, baik yang bersifat tradisonal maupun yang sudah berskala industri. Proses pengolahan singkong dimulai dengan proses pengupasan kulit dari singkong tersebut. Proses ini biasa dilakukan dengan cara tradisional. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu resiko kecelakan kerja yang tinggi, kapasitas yang kecil dan membutuhkan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat mesin pengupas dan pencuci singkong tipe silinder horizontal. Penelitian ini menghasilkan mesin pencuci dan pengupas kulit singkong dengan memiliki spesifikasi dimensi panjang 146 cm, lebar 113 cm dan tinggi 128 cm. Silinder mempunyai panjang 100 cm dan diameter 60 cm. Uji kinerja dan analisa ekonomi mesin memperlihatkan kapasitas sebesar 310 kg/jam, biaya pokok Rp. 45 kg/jam dan BEP Break Even Point sebesar kg/ IqbalSuhardi SuhardiSri Ayu NirisnawatiLoss of agricultural products occurs in post-harvest handling process. The threshing process is part of the rice post-harvest that can be done with various techniques and various types of rice thresher machine. Multipurpose thresher is one type of thresher that can thresh the grains such as rice and soybeans. The aim of Performance efficiency test is to determine the performance efficiency of the thresher. The parameters measured were threshing capacity, threshing efficiency, and thresher quality. Testing is done by using the engine speed of 2500 rpm and 3000 rpm, with the tested varieties of rice varieties Ciherang and Bestari. Test results show that the efficiency of Ciherang varieties cutting is better if using the speed of rotation 2500 rpm engine. If using a speed of 3000 rpm occurs losses results. As for Bestari varieties more efficient if using a speed of 3000 rpm. The higher the speed of rotation of the machine then the level of grain damage will also increase Keywords rice, threshing, varieties, multipurpose thresher ABSTRAK Kehilangan hasil pertanian banyak terjadi pada proses penanganan pascapanen. Proses perontokan merupakan bagian dari pascapanen padi yang dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan berbagai jenis mesin perontok padi. Alat perontok multiguna termasuk salah satu jenis perontok yang dapat merontokkan biji-bijian seperti padi dan kedelai. Pengujian efisiensi kinerja alat perontok multiguna bertujuan untuk mengetahui efisiensi kinerja alat perontok. Parameter yang diukur adalah kapasitas perontokan, efisiensi perontokan, dan kualitas perontokan. Pengujian tersebut dilakukan dengan menggunakan kecepatan putaran mesin 2500 rpm dan 3000 rpm, dengan varietas padi yang diuji yaitu varietas Ciherang dan Bestari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa efisiensi perontokan varietas Ciherang lebih baik jika menggunakan kecepatan putaran mesin 2500 rpm. Jika menggunakan kecepatan putaran mesin 3000 rpm terjadi susut hasil. Sedangkan untuk varietas Bestari lebih efisien jika menggunakan kecepatan putaran mesin 3000 rpm. Semakin tinggi kecepatan putaran mesin maka tingkat kerusakan gabah juga akan semakin meningkat. Kata kunci padi, perontokan, varietas, rpm, perontok multigunaMuhammad AdamArif Rahma SuryaRahayu WilujengIndra LaksmanaPemipilan jagung yang dilakukan masyarakat pada umumnya masih menggunakan tenaga manusia, sehingga kegiatan pemipilan menjadi kurang efektif dan menghabiskan banyak waktu. Salah satu peralatan mekanis untuk pemipilan jagung adalah mesin pemipil jagung tipe rantai dengan kapasitas pemipilan yang lebih besar dibanding cara manual. Hasil uji kinerja mesin pemipilan jagung tipe rantai diperoleh kapasitas pengumpan 708,66 kg/jam, kapasitas pemipilan 543,3 kg/jam, persentase biji jagung rusak 0,1%, persentase biji jagung tercecer 2,128%, persentase biji jagung tidak terpipil 1,702%, persentase susut hasil 3,830%, efisiensi pemipilan 98,298% dan rendemen pemipilan 76,67%. Berdasarkan analisa ekonomi yang dilakukan pada mesin pemipil jagung tipe rantai didapat biaya tetap Rp. biaya tidak tetap Rp. biaya kerja Rp. /jam, biaya pokok dan break event point BEP operasional alat dihasilkan 19,584 kg/ Mekanisasi Pertanian Dalam Rangka Mempertahankan Swasebada Produksi Beras sampai dengan tahun 2000 di Jawa Timur. 1-11. Risalah Seminar Hasil Pertanian Tanaman Pangan TahunAntarnoAntarno. 1992. Pengembangan Mekanisasi Pertanian Dalam Rangka Mempertahankan Swasebada Produksi Beras sampai dengan tahun 2000 di Jawa Timur. 1-11. Risalah Seminar Hasil Pertanian Tanaman Pangan Tahun 1991. Balittan. Kerja Praktek Mahasiswa BKPM Alat mesin pasca panenR J KodoatieKodoatie, R. J. 2005. Analisis Ekonomi Teknik. Penerbit Andi Yogyakarta. Yogyakarta. Novita S. A. & A, Irwan. 2016. Buku Kerja Praktek Mahasiswa BKPM Alat mesin pasca panen. Payakumbuh, Indonesia Politeknik Pertanian Negeri penanganan pasca panen kacang tanah. Pusat Pengembangan Teknologi Enjiniring Pertanian Tepat GunaH K PurwadariaPurwadaria, 1991. Teknologi penanganan pasca panen kacang tanah. Pusat Pengembangan Teknologi Enjiniring Pertanian Tepat Guna. Depertemen S SupraptoSuprapto, 2005. Bertanam Kacang Tanah. Jakarta, Indonesia Penebaran Swadaya.
Post Views 234 Indonetwork, Budidaya – Kacang tanah atau yang biasa dikenal dengan nama latin Arachis Hypogaea L memiliki banyak kandungan, termasuk protein. Kandungan pada kacang tanah baik bagi kesehatan tubuh dalam meminimalisir berbagai penyakit. Selain itu, kacang tanah juga memiliki rasa yang cocok di lidah masyarakat Indonesia serta dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Maka tidak heran jika banyak orang yang ingin berbudidaya kacang tanah. Menanam kacang tanah sendiri tidaklah sulit jika Anda sudah mengetahui cara dan syarat-syarat dalam menanam kacang tanah. Berikut ini cara menanam, merawat dan juga cara mengolah kacang tanah yang benar. Ikuti tipsnya hingga akhir! Cara Menanam Dan Merawat Kacang TanahSyarat Utama Menanam Kacang TanahTanah Subur atau Gembur Kondisi SuhuTingkat Keasaman Pada TanahMemilih Benih Yang TepatProses PenanamanCara Merawat Tanaman Kacang TanahProses Memanen Kacang TanahCara Mengolah Kacang TanahRendam Kacang TanahCuci Hingga Bersih Dipanggang Lebih Baik Rekomendasi Kacang Tanah Jakarta Cara Menanam Dan Merawat Kacang Tanah Sumber Unsplash Menanam kacang tanah dapat mengisi waktu luang Anda. Dengan menanam kacang tanah, tidak hanya dapat merasakan enaknya kacang tanah. Tetapi, Anda juga akan mendapatkan manfaatnya. Inilah cara mudah menanam dan merawat kacang tanah. Syarat Utama Menanam Kacang Tanah Sumber Unsplash Menanam kacang tanah ternyata tidak boleh asal menanam saja. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar hasil panennya memuaskan. Inilah syarat yang harus dipenuhi dalam menanam kacang tanah. Tanah Subur atau Gembur Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih lahan yang akan digunakan untuk menanam kacang tanah. Anda sebaiknya memilih lahan yang gembur atau subur. Anda juga dapat menggunakan media tanam yang memiliki kandungan bahan organik yang tinggi dan subur. Kondisi Suhu Selanjutnya adalah mengetahui kondisi suhu yang dibutuhkan. Suhu perkecambahan yang optimal bagi kacang tanah antara 20-30°C dengan minimum 18°C. Kacang tanah sangat cocok untuk ditanam pada ketinggian 50-500 MDPL dengan tingkat curah hujan yang sedang. Jika intensitas hujan terlalu tinggi, hal ini dapat mempengaruhi tingginya pertumbuhan jamur yang tidak baik untuk pertumbuhan kacang tanah. Oleh karena itu, beberapa wilayah di Indonesia sangat cocok untuk melakukan budidaya kacang tanah. Tingkat Keasaman Pada Tanah Selain memilih tanah yang gembur, Anda juga perlu mengetahui tingkat keasaman pada tanah. Kacang tanah dapat ditanam pada tanah yang memiliki tingkat keasaman sekitar 5 sampai 6,3 pH. Baca Juga Budidaya Kacang Hijau, Si Kecil Yang Kaya Manfaat Memilih Benih Yang Tepat Sumber Unsplash Jika memenuhi syarat yang sudah ditentukan, selanjutnya Anda dapat memilih benih. Agar mendapatkan hasil panen yang berkualitas, ada baiknya Anda memilih benih yang tepat seperti berikut ini. Pilih benih yang berusia kurang lebih 100 hari atau sudah tua. Biasanya ditandai dengan warna coklat kehitaman, Tidak memiliki selaput pada bagian dalam cangkangnya ketika benih dibuka, Benih berasal dari varietas yang unggul dan murni tidak bercampur dengan varietas lain, Benih memiliki daya tumbuh minimal 90 persen, Tampilan kulit benih yang bersih mengkilap dan tidak kotor, serta tidak berkerut, dan Kadar sekitar air 9 hingga 12 persen. Jika sudah memilih benih yang tepat Anda dapat melakukan proses pembibitan benih dengan menggunakan media kapas yaitu dengan cara Rendam terlebih dahulu benih kacang di dalam air hangat suhu 40-45°C selama 10 menit untuk meningkatkan rangsangan pengecambahannya, Ambil kapas dan rendam ke dalam air hangat untuk menghilangkan zat kimia di dalamnya, Siapkan wadah penyemaian dan masukkan kapas yang sudah direndam dalam keadaan basah, Letakkan benih kacang di atas kapas lalu masukkan sedikit air, Letakkan di tempat yang tersinari matahari namun agak teduh, dan Tunggu hingga beberapa minggu agar benih berkecambah kemudian siap untuk ditanam. Atau Anda bisa menjemurnya saja dengan cara menjemur benih tersebut selama 4-5 hari kemudian simpan benih 3-6 bulan untuk kualitas yang lebih baik. Jika sudah sesuai waktunya, maka benih sudah siap ditanam. Proses Penanaman Sumber Setelah bibit kacang tanah memiliki 2-5 helai daun dari proses penyemaian, maka bibit sudah siap dipindahkan di polybag atau di pot. Anda bisa menyiapkan pot atau polybag untuk menanam dengan catatan bagian bawahnya sudah diberi lubang. Cara menanam kacang tanah dengan menggunakan polybag bisa disesuaikan jumlahnya dengan jumlah bibit. kemudian, masukkan batu-batu kecil agar lubang nantinya tidak tersumbat oleh tanah. Masukkan media tanam dengan komposisi sebagai berikut tanahkompospasir/sekam = 211. Atau jika Anda menanam benih yang tidak disemai Anda dapat melakukannya sebagian berikut Lubangi tanah dengan cara ditugal dengan jarak tanam 25×25 cm. Masukan 1 benih biji untuk setiap lubang. Padatkan dengan tanah seçara perlahan kemudian disiram Untuk 1 hektar tanah, Anda memerlukan 50 gram benih. Baca Juga Cara Mengolah Kacang Tanah Yang Benar Untuk Sajian Nikmat Cara Merawat Tanaman Kacang Tanah Sumber Hobby Farms Melakukan perawatan pada tanaman merupakan hal yang çukup penting juga untuk menjaga kualitas. Berikut beberapa cara merawat tanaman kacang tanah Lakukan pemeliharaan kacang tanah saat berumur 4-7 hari setelah ditanam, Apabila setelah umur 7 hari ada tanaman yang tidak tumbuh atau tidak normal, segera cabut dan ganti benih kacang tanah baru atau disulam, Bila dilakukan saat musim kemarau, lakukan penyiraman di pagi dan sore hari. Supaya bibit kacang tanah bisa tumbuh seragam, Lakukan penyiangan terhadap gulma yang mengganggu kompetisi perebutan nutrisi oleh tanaman kacang tanah. Pengendalian gulma pada kacang tanah, sangat mudah. Cukup mencabut gulma yang ada di lahan, terbukti efektif dan efisien, Pada masa pembuahan, usahakan untuk memberi pupuk yang banyak mengandung fosfor, dan Lakukan penyiangan dan pembubuhan tanah pada bagian bawah tanaman untuk meningkatkan kualitas kacang selain itu dengan melakukan penyiangan secara insentif dan pembersihan gulma dengan rutin bisa menanggulangi serangan hama seperti ulat penggulung daun, ulat jangkrik, dan hama tanaman lainnya. Proses Memanen Kacang Tanah Sumber Tahap terakhir adalah melakukan panen, jika tanaman sudah memasuki waktu 90 hari setelah ditanam Anda bisa mulai melakukan pemanenan untuk mengetahui apakah kacang tanah sudah bisa dipanen atau belum adalah dengan memiliki ciri ciri sebagai berikut Batang sudah mulai mengeras, Polong memiliki warna coklat kehitaman, Daun kacang tanah sudah mulai menguning dan mulai gugur, dan Polongnya keras dan penuh saat dipegang. Cara Mengolah Kacang Tanah Sumber Google Kacang tanah memang sangat cocok dijadikan cemilan bersama teman atau saat sedang sendiri. Mengolah kacang tanah juga cukup mudah, seperti berikut Rendam Kacang Tanah Hal yang paling sering dilupakan kebanyakan orang dalam mengolah kacang tanah adalah dengan tidak direndam terlebih dahulu. Padahal dengan merendam kacang tanah terlebih dahulu dapat memudahkan Anda saat melepas kulit ari kacang. Anda dapat merendam kacang terlebih dahulu menggunakan air panas. Jika kulit sudah mulai melunak, Anda bisa langsung mengupasnya dengan menggosokan kacang secara perlahan hingga kulit ari mulai terlepas. Baca Juga Khasiat Kacang Hijau Untuk Kulit Wanita, Bikin Kencang! Cuci Hingga Bersih Jika kulit ari sudah dikupas dengan bersih selanjutnya adalah dengan mencucinya dengan bersih, yaitu dengan menggunakan air yang mengalir. Kika sudah bersih, Anda sudah bisa langsung mengolahnya. Dipanggang Lebih Baik Ada baiknya mengolah kacang tanah adalah dengan cara dipanggang. Faktanya, menggoreng kacang tanah dianggap kurang tepat. Menggoreng kacang tanah akan membuat kandungan nutrisinya berkurang atau bahkan hilang dan akan bisa membuat kacang berbau tengik. Akan lebih baik jika memanggang kacang tanah dengan oven. Anda bisa panaskan oven terlebih dahulu hingga suhu 175 derajat Celcius selama 15-20 menit untuk kacang tanah yang sudah dikupas. Atau agar lebih sehat Anda bisa mengolah kacang tanah dengan cara direbus. karena dengan merebus kacang tidak akan membuat hilangnya kandungan nutrisi pada kacang, Anda dapat merebus kacang tanah kurang lebih sekitar 45 menit saja dengan tingkat api yang sedang. Rekomendasi Kacang Tanah Jakarta Itulah informasi cara menanam, merawat dan mengolah kacang tanah. Semoga dapat membantu Anda dalam menanam kacang tanah dan mengolah kacang tanah yang tepat. Jika Anda sedang mencari kacang tanah Jakarta, Anda bisa menemukannya di PT. Sumber Roso Agromakmur yang menjual kacang-kacangan dengan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau. Selain menjual jenis kacang-kacangan PT. Sumber Roso Agromakmur, juga merupakan distributor rempah rempah, importir cabe kering, dan biji-bijian dari bahan makanan pertanian bertempat di indonesia yang sudah berpengalaman selama 40 tahun. Penulis Adelia Editor Nafila Chaerunnisa
The problem that arises in plant cultivation activities is the possibility of a decline in plant growth which will result in decreased yields of cultivated plants. The sedentary agricultural system in Mosopotamia originated in the Southeast Asian region now known as Indonesia in about 10,000 BC. The practice of planting on the soil continuously will reduce soil fertility. Research shows that the availability of nutrients is the most important for plant growth, so fertilization is the best way to provide nutrients for plants and maintain soil fertility. Lime is any material that contains Ca or Mg which can be given to the soil to raise the pH. The materials in question are limestone calcium carbonate CaCO3, burning lime CaO, or slaked lime Ca OH2. In addition, liming materials in the form of other calcium compounds such as natural phosphate or superphosphate can also be used, namely a mixture of mono calcium phosphate Ca H2PO42, calcium sulfate CaSO4, dolomite Ca Mg SO4 and oyster shells. . Lime application can be done by mixing it with the soil, spreading it on the soil surface and spraying method. Figures - uploaded by Basuki WasisAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Basuki WasisContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 TEKNIK PEMBERIAN KAPUR 1 LIME APPLICATION TECHNIQUES Edisi 17 Agustus 2020 3 Basuki Wasis 2 1 Makalah pengayaan materi mata kuliah Pengelolaan Nutrisi Hutan tahun 2020 2 Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor, Jawa Barat 3 Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia Independence Day of the Republic of Indonesia ABSTRACT The problem that arises in plant cultivation activities is the possibility of a decline in plant growth which will result in decreased yields of cultivated plants. The sedentary agricultural system in Mosopotamia originated in the Southeast Asian region now known as Indonesia in about 10,000 BC. The practice of planting on the soil continuously will reduce soil fertility. Research shows that the availability of nutrients is the most important for plant growth, so fertilization is the best way to provide nutrients for plants and maintain soil fertility. Lime is any material that contains Ca or Mg which can be given to the soil to raise the pH. The materials in question are limestone calcium carbonate CaCO3, burning lime CaO, or slaked lime Ca OH2. In addition, liming materials in the form of other calcium compounds such as natural phosphate or superphosphate can also be used, namely a mixture of mono calcium phosphate Ca H2PO42, calcium sulfate CaSO4, dolomite Ca Mg SO4 and oyster shells. . Lime application can be done by mixing it with the soil, spreading it on the soil surface and spraying method. Key words calcium, lime, lime application, plant growth, spraying method, ABSTRAK Permasalahan yang muncul pada kegiatan budidaya tanaman adalah kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan tanaman yang akan berakibat menurunnya hasil panen tanaman yang dibudidayakan. Sistem pertanian menetap di Mosopotamia berasal dari wilayah Asia Tenggara sekarang bernama Indonesia pada tahun sekitar SM. 2 Praktek menanam pada tanah secara terus menurus akan menurunkan kesuburan tanah. Penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara merupakan yang terpenting bagi pertumbuhan tanaman, sehingga pemupukan merupakan cara yang terbaik untuk penyediaan hara bagi tanaman dan mempertahankan kesuburan tanah. Kapur adalah setiap bahan yang mengandung Ca maupun Mg yang dapat diberikan kepada tanah untuk menaikan pH. Bahan bahan yang dimaksud adalah batu kapur kalsium karbonat CaCO3, kapur bakar CaO, atau kapur mati Ca OH2. Selain itu dapat juga digunakan bahan pengapuran yang berupa senyawa kalsium lainnya seperti fosfat alam, atau superfosfat, yaitu campuran mono kalsium fosfat CaH2PO42, kalsium sulfat CaSO4, dolomit Ca Mg SO4 dan kulit kerang oyster shells. Pemberian kapur dapat dilakukan dengan cara dicampur dengan tanah, cara disebar pada permukaan tanah dan cara disemprot. Kata kunci cara disebar, cara disemprot, kapur, pemberian kapur, pertumbuhan tanaman I. PENDAHULUAN Permaalahan yang muncul pada kegiatan budidaya tanaman adalah kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan tanaman yang akan berakibat menurunnya hasil panen tanaman yang dibudidayakan. Penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara merupakan yang terpenting bagi pertumbuhan tanaman, sehingga pemupukan merupakan cara yang terbaik untuk penyediaan hara bagi tanaman. Terlebih lagi tanah pasca tambang yang secara umum miskin hara sehingga pemupukan harus dilakukan Wasis 2014; Wasis et al 2016 ; Wasis dan Andika 2017; Wasis et al 2018; Wasis et al 2019; Wasis dan Alkautsar 2019; Wasis dan Sandra 2020. Pupuk adalah bahan untuk diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak langsung guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya, sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman. Sedangkan pemupukan artinya pemberian pupuk kepada tanaman ataupun kepada tanah dan substrat lainnya Leiwakabessy dan Sutandi 1998 Menurut Hardjowigeno 1986 pupuk adalah semua bahan yang diberikan kepada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Ketersediaan unsur hara sangat diperlukan tanaman atau tumbuhan. Ketersediaan hara dapat terjadi melalui dekomposisi bahan organik, pelapukan batuan, kebakaran hutan dan lahan, pemupukan, pengapuran, air hujan, air irigasi dan lainnya. Pemupukan yang sering juga digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman adalah pemupukan kedalam bedia tumbuh atau tanah. Tujuan pemupukan adalah untuk memperoleh produksi yang tinggi dan bernilai dengan penyediaan hara sambil mempertahankan atau memperbaiki kesuburan tanah tanpa merusak Setyamidjaja 1986 ; Wasis 1990; Wasis et 3 al 1996; Leiwakabessy dan Sutandi 1998; Wasis 2002; Wasis 2003; Wasis 2004; Wasis 2005; Wasis 2006; Wasis 2009; Wasis 2011; Wasis 2012; Wasis 2013. Kapur adalah setiap bahan yang mengandung Ca maupun Mg yang dapat diberikan kepada tanah untuk menaikan pH. Bahan bahan yang dimaksud adalah batu kapur kalsium karbonat CaCO3, kapur bakar CaO, atau kapur mati Ca OH2. Selain itu dapat juga digunakan bahan pengapuran yang berupa senyawa kalsium lainnya seperti fosfat alam, atau superfosfat, yaitu campuran mono kalsium fosfat CaH2PO42, kalsium sulfat CaSO4, dolomit Ca Mg SO4 dan kulit kerang oyster shells Soepardi 1983; Setyamidjaja 1986. Pengapuran adalah pemberian bahan-bahan kapur untuk meningkatkan pH tanah yang bereaksi masam menjadi mendekati netral yaitu sekitar 6,5 – 7. Pada prinsipnya pengapuran bertujuan untuk memperoleh reaksi tanah sampai mendekati netral dimana pada derajat pH yang demikian sebagian besar unsur hara berada dalam keadaan tersedia bagi tanaman Soepardi 1983; Setyamidjaja 1986; Hardjowigeno 1986 Kapur merupakan jenis pupuk yang baik untuk digunakan pada kegiatan budidaya atau pemeliharaan tanaman. Adapun fungsi kapur adalah 1. Memperbaiki sifat kimia seperti pH tanah, KTK dan kesuburan tanah 2. Meningkatkan kesuburan tanah 3. Memperbaiki sifat biologi tanah yaitu kehidupan mikroorganisme 4. Meningkatkan hasil kualitas panen tanaman buah-buahan 5. Memperbaiki ekoistem binatang tanah dan siklus nutrisi pada tanah 6. Dapat mengembalikan unsur hara yang tercuci Penggunaan kapur untuk memperbaiki kesuburan tanah telah digunakan sejak 900- 2500 SM di Mesopotamia Irak. Dimana Herodutus, Theophrastus, Homer dan Xenophon menyatakan bahwa lahan atau kebun dapat diperbaiki keuburan tanahnya dengan pemberian pupuk kandang, kompos, kapur, pupuk hijau dan limbah tanaman mulsa. Tanaman buah-buahan dan sayuran akan tumbuh secara baik dan hasil panen yang makimal jika dilakukan pemberian pupuk kandang, kapur, mulsa, kompos dan pupuk hijau yang cukup. Berdasarkan hasil pengamatan pada Zaman tersebut 900-2500 SM diketahui bahwa menanam terus-menerus menurunkan produktifitas lahan. Sebaliknya menambahkan pupuk kandang/limbah tanaman memulihkan kesuburan tanah. Secara umum sistem pertanian menetap di Mesopotamia diadaptasikan berasal sistem Subak dari Asia Tenggara sekarang wilayah negara Indonesia pada waktu sekitar SM. Sistem Subak tersebut masih dijumpai sampai sekarang yaitu di Bali dan Jawa Wasis, 2010a. Bahan bahan berikut ini pada zaman purba dulu telah dikenal sebagai bahan menaikkan kesuburan tanah yaitu a pupuk kandang, b kompos, c sisa tanaman atau tumbuhan mulsa, d sisa hewan darah, tulang dll, e ekskresi manusia dan hewan, f endapan burung guano, g lumpur sungai dan kolam, g tanah hutan, h rumput laut dan 4 sisa ikan, i pupuk hijau, j tanah bergaram, k abu dari jerami, kayu, tulang, bahan tanah dan l marl liat berkapur, kapur dan gips Leiwakabessy dan Sutandi 1998. Pemberian pupuk kandang, kompos, kapur, mulsa sisa tanaman/tumbuhan dan pupuk hijau tidak berdampak terhadap pencemaran dan atau kerusakan tanah, sehingga sangat dianjurkan diberikan sesering mungkin pada tanah. Praktek budidaya tanaman menunjukkan pemberian pupuk kandang, kapur, kompos, mulsa dan pupuk hijau dapat meningkatkan hasil panen yang sangat memuaskan dan produknya ramah lingkungan. Permintaan kompos, pupuk kandang, mulsa, kapur dan pupuk hijau kedepan akan semakin meningkat karena pihak konsumen menginginkan produk kehutanan kayu, rayon/pakaian, kertas, getah, air mineral dan lainnya, produk perkebunan minyak sawit, biodisel, karet, kopi, coklat dan lainnya dan produk pertanian beras, jagung, kedelai, bawang dan lainnya yang ramah lingkungan. Gambar 1. Pemberian kapur pada tanah sisa tanaman/tumbuhan Sumber 5 Gambar 2 Bahan kapur pertanian Gambar 3. Penggunaan mulsa plastik Sumber 6 Gambar 4. Pemberian pupuk pada pohon Sumber Gambar 5. Pemupukan pohon cara tabur dalam piringan Sumber 7 Gambar 6. Penanaman hutan tanaman industri secara intensif pemupukan dan Pemeliharaan memperpendek daur panen 3-4 tahun Sumber Gambar 7. Pohon durian tumbuh baik karena tercukupi hara Sumber 8 Gambar 8. Mangga berbuah karena kecukupan hara Sumber Gambar 9. Tanaman pisang berbuah karena kecukupan hara Sumber 9 II. TEKNIK PEMBERIAN KAPUR A. Bahan dan Alat 1. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi a. Kapur b. Tanaman semusim seperti padi, jagung, kedelai, sayuran, obat-obatan dan lainnya c. Tanaman keras atau atau pohon sperti Karet, Akasia, Jati, Mangga, Duku, Sengon, Jambu, Sirsak, Durian, Eucalyptus, Kelapa Hibrida, Kelapa Sawit, Coklat, Nangka dan lainnya dan c. Air 2. Alat alat penelitian meliputi takar pupuk/kapur, b. Gelas ukur c. Sendok semen, d. Cangkul e. Timbangan, f. tongkat tugal diameter 5-7 cm dan g. Alat tulis menulis. B. Pelaksanaan Penanaman dan Pemberian Kapur 1. Media Pertumbuhan tanaman Media pertumbuhan tanaman dapat berupa lahan tanah yang telah tumbuh tanaman atau pohon. Tanaman atau pohon sebelum diberikan kapur sebaiknya telah diberikan air pada kondisi kapasitas lapang disiram air secukupnya atau curah hujan yang turun. Kapur diberikan pada kondisi tanah lembab, sehingga sebaiknya dilakukan pada awal dan akhir musim hujan, yaitu pada saat berbagai kegiatan fisiologi tanaman berlangsung dengan giat dan perubahan dalam tanah dapat berlangsung dengan baik karena persediaan air dalam jumlah yang optimal tanah dalam keadaan lembab, sehingga kandungan air dan udara seimbang. Jika kapur diberikan pada musim kemarau dapat dilakukan penyiraman terlebih dahulu sehingga tanah menjadi lembab, biasanya dilakukan pada pohon yang hidup diareal taman kota, tanaman hias atau hutan kota, 2. Persiapan kapur Untuk memperoleh hasil pengapuran yang baik, dalam menggunaan bahan pengapur terutama dengan bahan dasar batu kapur CaCO3 hendaknya diusahakan agar bahan yang digunakan dapat segera tampak pengaruhnya pada tanah. Untuk maksud tersebut batu kapur harus digiling dihaluskan sempat memiliki ukuran yang halus. Rekomendasi umum untuk semua bahan kapur adalah derajat kehalusan butir butirnya harus dapat melalui ayakan 10 mesh 10 lobang/inci2 dengan 40 % di antaranya dapat melewati ayakan 100 mesh sehingga tepung batu kapur itu dapat mudah disebarkan balik secara manual maupun dengan peralatan mekanisasi. 10 Kapur kemudian ditimbang sesuai dosis yang diinginkan sesuai kebutuhan pohon atau tanaman. Takaran kapur dapat menggunakan timbangan atau mengunakan sendok ukur atau wadah ukur. Kapur pada pohon dapat dilakukan dengan cara disebar namun cara ini dapat menyebabkan hilangnya unsur hara dari dalam kapur karena penguapan. Berdasarkan praktek pemberian kapur yang baik adalah cara dibenamkan kapur kedalam tanah lubang dengan kedalamanan 2 -5 cm. 3. Teknik Pemberian Kapur Sebelum melakukan kapur gunakan perlengkapan perlindungan diri seperti masker, sarung tangan, kaca mata, pakaian kerja lapangan. Karena kapur yang tersentuh tangan atau anggota tubuh dapat terserap atau terhirup melalui pernapasan atau kulit, hal ini tentunya dapat membahayakan kesehatan Cara dibenamkan dan disebar a. Tanaman keras pohon Teknik pemberian kapur dapat dilakukan pada lubang yang melingkar sejajar dengan tajuk terluar pohon metode piringan. Tanah digali sedalam 2-5 cm dengan cangkul membentuk lingkaran sesuai proyeksi tajuk pohon terluar. Kapur yang telah dipersiapkan sesuai dosisnya kemudian disebar kedalam lubang secara merata. Kemudian lubang ditutup atau ditimbun dari bahan tanah yang ada pada bagian pinggirnya hasil galian tanah dengan cangkul Setyamidjaja 1986 ; Wasis et al 1996. Permasalahan pembuatan lubang pada piringin sekeliling proyeksi tajuk pohon memerlukan biaya yang mahal biaya pembuatan lubang dan memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam efisiensi pemupukan dengan kapur maka diperlukan modifikasi pembuatan lubang yang dilakukan yaitu dengan cara ditugal sebanyak 5 lubang pada sekitar proyeksi tajuk pohon, dimana jarak antar lubang dibuat relatif sama. Pada lubang tugal diberikan kapur sebanyak 20 % dari dosis kapur yang akan diberikan pada pohon tersebut. Setelah kapur diberikan kedalam lubang kemudian ditutup dengan tanah dengan diinjak kaki pada tepi lubang tugal. b. Tanaman sayuran atau persemaian 11 Kapur dicampur dengan tanah yang telah diolah bersama sama dengan menghaluskan/ meratakan tanah yang akan ditanami. Pengolahan tanah dilakukan sampai terbentuk tanah yang gembur dan merata, sehingga meningkatkan aerasi tanah. Campuran tanah, pupuk kandang dan kapur akan merperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Sehingga pemberian kapur dicampur pupuk kandang akan memperbaiki kesuburan dan produktivitas tanah jangka panjang. c. Tanaman timun, kacang panjang, kentang, buncis, wortel dan lainnya Kapur diberikan ke dalam lubang yang akan ditanami benih tanaman. Setelah benih diberikan dalam lubang tersebut kemudian ditutup kembali dengan tanah. Kapur dicampur pupuk kandang akan meningkatkan pertumbuhan tanaman sayuran dan hasil panen yang diambil akar atau umbinya seperti kentang, wortel, lobak dan lannya. d. Tanaman bunga –bungaan dan padi Kapur diberikan dengan cara disebar pada sekitar tanaman bunga. Tanaman bunga yang diberikan kapur dapat dalam pot, kantong plastik dan pada tanah langsung. Pada tanaman padi pemberian kapur dapat dilakukan dengan disebar pada lahan sawah. Cara disemprotkan Pada tanaman kacang tanah pengapuran merupakan suatu pekerjaan yang baik untuk menyediakan unsur Ca bagi tumbuhan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan Ca pada kacang tanah adalah besar, terutama untuk pembentukan polong Setyamidjaja 1986. Pemberian kalsium dapat meningkatkan hasil nyata pada lahan lahan yang miskin kalsium. Tanah yang mengandung cukup Ca akan menghasilkan kacang tanah berkualitas tinggi. Cukup tersedianya Ca di dalam tanah akan memberikan pertumbuhan vegetatif yang baik, pertumbuhan polong yang optimal, putih dan berisi penuh. Kalsium dapat langsung diisap oleh polong yang sedang berkembang dan untuk pertumbuhan biji. Tersedianya kalsium yang cukup pada daerah pembentukan polong adalah sangat penting Suryatna 1976. Cara yang terbaik untuk memberikan Ca pada polong yang sedang berkembang adalah dengan menyemprotkan tepung gypsum halus CaSO4. 2H2O sebanyak 300-500 kg/ha kepada tanaman kacang tanah pada saat pembungaan berlangsung. Gipsum dapat jatuh disekitar daerah pembentukan polong dan Ca akan tersedia pada saat yang dibutuhkan. Menurut BP Bimas 1977 gipsum dapat diberikan secara topdressing pemupukan susulan dengan disebar pada tanaman kacang tanah yang sedang berbunga dengan dosis 400-600 kg/ha. 12 / Gambar 10. Hutan tanaman jati berkecukupan unsur hara kalsium Sumber Gambar 11. Mangga gedong gincu tumbuh baik karena kecukupan hara Sumber 13 Gambar 12. Indonesia penghasil kopi nomor 1 di dunia Sumber Gambar 13. Pemberian mulsa pada tanaman strowberi Sumber 14 Gambar 14. Kapur dan pupuk meningkatkan pertumbuhan kacang tanah Sumber Gambar 15. Kacang tanah yang tumbuh baik dan siap dipanen Sumber 15 4. Tahap Akhir Peralatan pemberian kapur yang digunakan kemudian dibersihkan dan kapur yang masih disimpan pada tempatnya. Demikian perlengkapan pakain, masker dan pelindung diri lainnya dibersihkan atau dicuci. Pada dewasa ini pandemi Corona 19 terutama di kota kota besar telah berkembang pula sistem bertanam dengan medium larutan yang mengandung unsur hara dengan komposisi yang lengkap. Cara bertanam itu disebut dengan sistem hidroponik. Disamping penanaman dengan menggunakan pot atau polibag dengan media kompos atau bahan organik juga sudah banyak dilakukan untuk menanam sayur dan tanaman obat-obatan. Gambar 16. Pemberian pupuk organik dan kapur dengan cara disemprot Sumber 16 Gambar 17. Pemberian pupuk dengan cara disebar pada lahan sawah Sumber Gambar 18. Pupuk organik dan kapur meningkatkan pertumbuhan tanaman Sumber 17 Gambar 19. Pemupukan pada tanaman kelapa sawit Sumber Gambar 20. Pohon tabebuya berbunga di Kota Surabaya Sakura Indonesia karena kecukupan hara 18 Gambar 21 Pohon flamboyan berbunga karena kecukupan hara Sumber Gambar 22. Hutan tanaman untuk produksi bahan rayon/pakaian Sumber dan 19 Gambar 23 . Mangga harum manis berbuah lebat karena kecukupan hara Sumber Gambar 24. Hutan kota di Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia Sumber 20 Gambar 25. Sistem pertanian Subak Bali, Indonesia merupakan awal sistem pertanian menetap di dunia Sumber kintamani .id dan Gambar 26. Bunga mawar dan bendera merah putih Republik Indonesia 21 III. PENUTUP Permasalahan yang muncul pada kegiatan budidaya tanaman adalah kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan tanaman yang akan berakibat menurunnya hasil panen tanaman yang dibudidayakan. Sistem pertanian menetap di Mosopotamia berasal dari wilayah Asia Tenggara sekarang bernama Indonesia pada tahun sekitar SM. Praktek menanam pada tanah secara terus menurus akan menurunkan kesuburan tanah. Penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara merupakan yang terpenting bagi pertumbuhan tanaman, sehingga pemupukan merupakan cara yang terbaik untuk penyediaan hara bagi tanaman dan mempertahankan kesuburan tanah. Kapur adalah setiap bahan yang mengandung Ca maupun Mg yang dapat diberikan kepada tanah untuk menaikan pH. Bahan bahan yang dimaksud adalah batu kapur kalsium karbonat CaCO3, kapur bakar CaO, atau kapur mati Ca OH2. Selain itu dapat juga digunakan bahan pengapuran yang berupa senyawa kalsium lainnya seperti fosfat alam, atau superfosfat, yaitu campuran mono kalsium fosfat CaH2PO42, kalsium sulfat CaSO4, dolomit Ca Mg SO4 dan kulit kerang oyster shells. Pemberian kapur dapat dilakukan dengan cara dicampur dengan tanah, cara disebar pada permukaan tanah dan cara disemprot. DAFTAR PUSTAKA Hamzah Z. 1983. Diktat Ilmu Tanah Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Hardjowigeno, S. 1986. Ilmu Tanah. Akademi Pressindo. Jakarta Lutz HJ and Chandler RF. 1965. Forest Soils. John Wiley & Sons, Inc. New York. Leiwakabessy FM dan Sutandi A. 1998. Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB Bogor. Sarief ES. 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Penerbit Pustaka Buana. Bandung Setyamidjaja D. 1986. Pupuk dan Pemupukan . CV Simplex Jakarta Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Fakultas Pertanian IPB Bogor Suryatna R. 1984. Ilmu Tanah. Penerbit Angkasa. Bandung. 22 Wasis B., Djamhuri E dan Fakuara MYT. 1990. Pensentase stek hidup dan persentase stek berakar tanaman sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. pada media tanah Latosol Darmaga. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. DOI Wasis B., Anas I., Manan S., dan Saraswati. 1996. Pertumbuhan semai sengon Paraserianthes falcataria L Nielsen melalui pemberian kapur, pupuk TSP dan inokulasi Rhizobium pada tanah masam. Program Pascasarjana IPB Bogor. DOI Wasis B. 1999. Pengaruh kebakaran hutan terhadap sifat tanah d hutan tanaman pinus Pinu merkusii Studi kasus di KPH Tasikmalaya Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. ResearchGate DOI Wasis B. 2002. Dampak perusakan Suaka Margasatwa Cikepuh terhadap kerusakan sifat kimia tanah. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. DOI Wasis B. 2003a. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan terhadap Kerusakan Tanah. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Volume IX Nomor 2 Halaman 79 – 86. Bogor Wasis B. 2003b. Dampak kebakaran hutan pada Taman Hutan Raya R . Soerjo Pacet terhadap kerusakan tanah. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2004a. Dampak Kebakaran Gambut Terhadap ketersediaan unsur mikro dan keracunan tanah Di Kawasan Pertanian, Lokasi PU I, Desa Sungai Sagu, Kecamatan Lirik Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2004b. Dampak tambang pasir terhadap sifat tanah di Kawasan Hutan Hutan Tanaman Desa Setia Negara Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor. ResearchGate DOI Wasis B. 2005. Dampak kebakaran gambut terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan Pertanian, Desa Sungai Korang, Kecamatan Hutaraja, Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B., Kusmana C., Suhendang E., dan Sudarsono. 2005. Kondisi sifat tanah hutan dan korelasi hubungannya dengan peninggi tegakan hutan tanaman Acacia 23 mangium Willd pada rotasi pertama dan rotasi kedua. Makalah Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. DOI Wasis B. 2006a. Dampak kebakaran tanah mineral terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan Pertanian Dusun Sei Arang, Kelurahan Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2006b . Dampak kebakaran tanah mineral terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan hutan, Desa Peranap, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2006c . Dampak kebakaran gambut terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan hutan, Desa Rotan Semelur, Kecamatan Pelangeran, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B., Kusmana C., Suhendang E., dan Sudarsono. 2006. Analisis jenis tanah pada hutan tanaman akaia Acacia mangium Willd di Blok Subanjeriji. Makalah Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. DOI Wasis B. 2009. Dampak kebakaran tanah mineral terhadap ketersediaan unsur mikro dan keracunan tanah di Kawasan pertanian, Lokasi PU I Desa Tumbang Jelemu, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis, B. 2010a. Pengelolaan Nutrisi Hutan. Bahan Kuliah di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor Wasis B. 2010b. Dampak kebakaran gambut terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan pertanian, Desa Pangkalan Panduk, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2011 . Dampak tambang pasir terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan Kebun Campuran dan Pertanian, Desa Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI Wasis B. 2012. Soil Properties in Natural Forest Destruction and Conversion to Agricultural Land in Gunung Leuser National Park, North Sumatera Province. JMHT XVIII3 206-212. 24 Wasis B. 2013. Dampak Kebakaran Gambut Terhadap ketersediaan unsur hara dan keracunan unsur hara mikro Di Kawasan Pertanian, Lokasi PU I Desa Bukit Batu, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor. ResearchGate DOI Wasis B. 2014. Dampak reklamasi pantai terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan Hutan Mangrove KDA Kampung Panglong Kelurahan Batu Besar Kecamatan Nongsa Kota Batam Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor. ResearchGate DOI Wasis B, Mulyana B, dan Winata B. 2015. Pertumbuhan semai jabon Anthocephalus cadamba. Jurnal Silvikultur Tropika 62 93–100. Wasis B. 2016. Dampak reklamasi pantai terhadap vegetasi dan sifat tanah di Kawasan Hutan Mangrove Kelurahan Batu Legong Kecamatan Bulang Kota Batam Provinsi Riau. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor. ResearchGate. Wasis B, Andika A. 2017. Growth response of mahagony seedling Swietenia macrophylla King. to addition of coconut shell charcoal and compost on ex-sand mining site of West Java Province in Indonesia. Agriculture and Environmental Science 23 238–243. Wasis, B., Arifin and Winata, B. 2018. Impact of bauxite mine to natural forest biomass and soil properties in Kas Island, Riau Island Province in Indonesia. Archives of Agriculture and Environmental Science, 33 264-269. Wasis B., Saharjo Putra W. And Winata. B . 2019. Analysis of environmental damage and environmental economic valuation ontropical rain forest destruction in Simalungun Regency, North Sumatera Province, Indonesia. Archives of Agriculture and Environmental Science 43 313-318. Wasis B dan Alkautsar I. 2019. Respon pertumbuhan bibit sengon buto Enterolobium cyclocarpum Griseb pada media tailing PT Antam Pongkor dengan penambahan arang batok kelapa dan bokashi pupuk kandang. Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 10 No. 03, Hal 184-191 Wasis B. dan Sandra E. 2020. Kajian ekologis pohon kina Cinchona spp. dan manfaatnya dalam mengatasi penyebaran penyakit malaria. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. ResearchGate DOI ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Basuki WasisDamage to peat soil due to burning is when peat soils lose the ability to store nutrients and water, death of flora and fauna, death of soil animals, changes in soil micro-organisms and loss of layers of peat soil. The study uses vegetation analysis and sampling with a purposive sampling method. Land fires in The Agricultural Area, PU I Location, Bukit Batu Village, Bukit Batu District, Bengkalis Regency, Riau Province, have caused the death of flora and fauna by 100% and peatland subsidence by 10 cm. Peat fires have caused an increase in soil pH and increased nutrient content N, P, K, Ca, Mg and Na as well as reducing the micro elements Fe, Cu, Zn and Mn. The decrease in micro elements is caused by the high Ca and Mg soils in peat soils. The levels of micro elements have not caused poisoning to the environment. Peat soils that have been damaged by fires show contraction and the ability of the soil to store water and nutrients will not return to normal irreversible Basuki WasisMineral soil fire cause the loss of flora and fauna, destruction of animal habitat, decreased environmental services, loss of organic matter, death of soil animals, erosion and microclimate change. The study uses vegetation analysis and sampling with a purposive sampling method. Mineral soil fire in the Forest Area, PU I Location, Tumbang Jalemu Village, Manuhing District, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan Province, have caused the death of flora and fauna by 100%. Mineral soil fire have caused an increase in soil pH, saturation of bases and micro elements Fe, Cu, Zn and Mn. The increase in micro elements has not caused poisoning to the environment. Increased soil micro elements increase soil fertility. Land fire in mineral soils have caused the loss of organic matter and biomass, thus endangering sustainable land management. Basuki WasisKerusakan tanah gambut akibat terbakar adalah ketika tanah gambut kehilangan kemampuan menyimpan hara dan air, matinya flora dan fauna, matinya binatang tanah, perubahan mikro organisme tanah dan hilangnya lapisan tanah gambut. Penelitian menggunakan analisa vegetasi dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Kebakaran lahan di Kawasan Pertanian, Lokasi PU I, Desa Sungai Sagu, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, telah menyebabkan matinya flora dan fauna sebesar 100 % dan subsiden tanah gambut sebesar 10 cm. Kebakaran gambut telah menyebabkan peningkatan pH tanah dan kejenuhan basa serta meningkatkan unsur mikro Fe, Cu, Zn dan Mn. Peningkatan unsur mikro belum menimbulkan keracunan terhadap lingkungan. Peningkatan unsur mikro tanah meningkatkan kesuburan tanah. Tanah gambut yang terbakar menjadi kering, bersifat mengkerut dan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan hara tidak akan kembali seperti sedia kala bersifat irreversible. Basuki WasisEdje DjamhuriM Yahya Fakuara TsMasalah utama dalam pembiakan vegetatif dengan stek akar sonokeling adalah hambatan dalam memunculkan akar, terutama pada stek akar yang diambil dari pohon yang sudah dewasa atau tua. Pada umumnya persentase tumbuh dari stek akar hanya mencapai 50 persen. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial 6 x 6 dalam rancangan acak lengkap RAL, dengan 3 ulangan. Hasil analisa data menunjukkan bahwa pemberian IBA berpengaruh sangat nyata terhadap persentase stek hidup dan persentase stek berakar. Pemberian NAA tidak berpengaruh nyata terhadap persentase stek hidup dan persentase stek berakar, sedangkan interaksi IBA dan NAA berpengaruh nyata terhadap persentase stek hidup dan persentase stek berakar. Pemberian perlakuan optimum untuk persentase stek hidup dan persentase stek berakar pada tanaman sonokeling yaitu interaksi IBA200 ppm dan NAA 125 ppm. Pertumbuhan tunas stek akar sonokeling dimualai pada hari ke enam, pertumbuhan tunas tertinggi terjadi pada hari ke 17, yaitu sebesar 8,70 persen, kemudian menurun dan terhenti pada hari ke 68. Media tanah latosol Darmaga masih dapat mendukung pertumbuhan stek akar tanaman sonokeling. Selama penelitian tidak dilakukan pemupukan pada tanah latosol karena media memiliki bahan organik yang tinggi dan relatif subur, dimana tanaman tidak menunjukkan defisiensi unsur besar yang dihadapi dalam pengembangan Hutan Tanaman Industri Acacia mangium di lahan terdegradasi, adalah kemungkinan penurunan kualitas tempat tumbuh pada rotasi pertama dibandingkan dengan rotasi kedua. Pemanenan tegakan hutan akan menurunkan kesuburan tanah, sehingga pemupukan yang optimal dan pengelolaan tegakan hutan sangat diperlukan untuk mempertahankan produktivitas hutan tanaman. Pengambilan sampel vegetasi hutan tanaman dan tanah dilakukan secara purposive sampling. Pada tanah rotasi 2 hutan tanaman A. mangium telah terjadi penurunan kesuburan tanah secara signifikan pada parameter pH, C-organik, nitrogen N, fosfor P, kalium Ca dan magnesium Mg dibandingkan pada rotasi 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggi tanaman secara nyata berkorelasi negatif dengan 1/umur, pH tanah dan biomassa bintil akar. Sedangkan kandungan air tersedia dan kandungan bahan organik tanah secara nyata berkorelasi positif dengan pertumbuhan A. mangium. Kelestarian hutan tanaman A mangium dan kesuburan tanah dapat dipertahankan dengan pemberian bahan organik dan pupuk an organik pada kegiatan penanaman dan pemeliharaan tegakan hutan A. mangium Basuki WasisDamage to peat soil due to burning is when peat soils lose the ability to store nutrients and water, death of flora and fauna, death of soil animals, changes in soil microorganisms and loss of layers of peat soil. The study uses vegetation analysis and sampling with a purposive sampling method. Land fires in The Agricultural Area, Pangkalan Panduk Village, Kerumutan District, Pelalawan Regency, Riau Province, have caused the death of flora and fauna by 100% and peatland subsidence by 10 cm. Peat fires have caused an increase in soil pH, increased Ca and Mg of the soil, decreased soil biological properties and other changes in soil properties. Peat soils that have been damaged by fires show contraction and the ability of the soil to store water and nutrients will not return to normal irreversible Basuki WasisKerusakan tanah gambut akibat terbakar adalah ketika tanah gambut kehilangan kemampuan menyimpan hara dan air, matinya flora dan fauna, matinya binatang tanah, perubahan mikro organisme tanah dan hilangnya lapisan tanah gambut. Penelitian menggunakan analisa vegetasi dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Kebakaran lahan di Kawasan Pertanian, Desa Sungai Korang Kecamatan Hutaraja Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara, telah menyebabkan matinya flora dan fauna sebesar 100 % dan subsiden tanah gambut sebesar 10 cm. Kebakaran gambut telah menyebabkan peningkatan pH tanah, meningkatkan Ca dan Mg tanah, menurunkan sifat biologi tanah dan perubahan sifat tanah lainnya. Tanah gambut yang terbakar menjadi kering, bersifat mengkerut dan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan hara tidak akan kembali seperti sedia kala bersifat irreversible. Basuki WasisKebakaran tanah mineral menyebabkan matinya flora dan fauna, kerusakan habita satwa, menurunnya jasa lingkungan, hilangnya bahan organik, matinya binatang tanah, timbulnya erosi dan perubahan iklim mikro. Penelitian menggunakan analisa vegetasi dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Kebakaran tanah mineral di Kawasan Hutan, Desa Peranap Kecamatan Peranap Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau telah menyebabkan kematian flora dan fauna 100 %. Kebakaran hutan telah menyebabkan perubahan tanah mineral yaitu meningkatkan pH tanah, menurunkan mikroorganisme, peningkatan Ca dan Mg tanah perubahan sifat fisik, sifat kimia dan biologi tanah. Kebakaran hutan pada tanah mineral telah menyebabkan hilangnya bahan organik dan biomassa sehingga membahayakan pengelolaan hutan berkelanjutan. Basuki WasisKebakaran tanah mineral menyebabkan matinya flora dan fauna, kerusakan habita satwa, menurunnya jasa lingkungan, hilangnya bahan organik, matinya binatang tanah, timbulnya erosi dan perubahan iklim mikro. Penelitian menggunakan analisa vegetasi dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Kebakaran tanah mineral di Kawasan Pertanian, Dusun Sei Arang Kelurahan Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau telah menyebabkan kematian flora dan fauna 100 %. Kebakaran lahan telah menyebabkan perubahan tanah mineral yaitu meningkatkan pH tanah, menurunkan mikroorganisme, peningkatan Ca dan Mg tanah perubahan sifat fisik, sifat kimia dan biologi tanah. Kebakaran lahan pada tanah mineral telah menyebabkan hilangnya bahan organik dan biomassa sehingga membahayakan pengelolaan lahan berkelanjutan. Basuki WasisThe negative impacts of sand mining with open mining systems are mainly caused by environmental degradation, environmental geological changes including aesthetic conditions, topography, slope, elevation elevation, exposure of bedrock, erosion, sedimentation, quality and quantity of ground water, decrease in soil productivity, disruption to flora and fauna, micro climate change, and various socioeconomic problems. The study uses vegetation analysis and sampling with a purposive sampling method. Sand mining activities in Gandoang Sub-District, Cileungsi District, Bogor Regency, West Java Province, have caused loss of soil solum 0 cm, digging holes as deep as 10-20 m and death of vegetation flora by 100%. Sand mining has caused changes and soil damage, namely decreasing clay fraction, increasing sand fraction, decreasing organic C, Ca and Mg, soil compaction and decreasing and soil microorganism destruction. Sand mining activities have caused the loss of organic material and agroforestry biomass, thus endangering sustainable land management
– Kacang tanah adalah tanaman yang memiliki produk utama berupa biji kacang. Orang Indonesia biasanya mengonsumsi biji kacang tanah setelah direbus atau bisa dimakan langsung, kacang tanah kini juga banyak tersedia dalam beragam sajian, mulai dari selai, olahan makanan ringan, hingga sambal. Baca juga 17 Makanan yang Mengandung Protein Tinggi Kandungan gizi kacang tanah Tak hanya gurih dan lezat, kacang tanah adalah makanan yang mengandung banyak gizi. Melansir Buku Membuat Aneka Olahan Kacang Tanah 2013 oleh Haryoto, biji kacang tanah memiliki kandungan protein dan lemak sehat yang cukup itu, kandungan mineralnya, terutama kalsium dan fosfor juga tergolong cukup tinggi. Secara lengkap, berikut ini kandungan gizi kacang tanah per 100 gram bahan yang bisa diketahui Kacang tanah kupas dengan selaput Kalori 452 kal Protein 25,3 g Lemak 42,8 g Karbohidrat 21,10 g Kalsium 58 mg Fosfor 335 mg Besi 1,3 mg Vitamin B1 0,3 mg Vitamin C 3 mg Air 4 mg Serat 8,5 g Baca juga 7 Biji-bijian Makanan Berserat Tinggi Kacang tanah rebus dengan kulit Kalori 360 kal Protein 13,5 g Lemak 31,2 g Karbohidrat 12,8 g Kalsium 42 mg Fosfor 177 mg Besi 1,4 mg Vitamin B1 0,44 mg Vitamin C 5 mg Air 40,2 mg Serat 8,5 g Baca juga 9 Buah yang Mengandung Serat Tinggi Kacang tanah sangrai tanpa selaput
14 Nov 2021, 1610Dokter, saya ingin bertanya, anak saya doyan sekali makan kacang tanah yang sudah digoreng. Bahkan dia tidak ingin makan nasi jika tidak menggunakan kacang tanah. Tapai belakangan ini dia sering sekali batuk. Apakah ini diakibatkan dari kacang tanah goreng yang dia makan setiap hari? Mengapa kacang tanah bikin batuk? Kandungan apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi? Bagaimana cara mengatasi agar mengonsumsi kacang tanah tidak bikin batuk?Dijawab oleh dr. Evelin KwandangHalo E, Batuk adalah refleks tubuh untuk mengeluarkan zat atau benda asing dari saluran pernapasan. Selain itu batuk juga dapat disebabkan karena infeksi virus atau bakteri yang dianggap sebagai organisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Kacang sebenarnya tidak mengandung zat tertentu yang menyebabkan batuk jika diproses dalam bentuk rebus atau kukus. Penyebab batuk karena makan kacang tanah goreng adalah proses penggorengan dan minyak goreng yang digunakan dalam proses tersebut. Mengatasi keluhan batuk karena makan kacang Selain karena makan kacang goreng, batuk juga bisa disebabkan oleh infeksi saluran napas akut, udara yang kering atau masalah pada saluran pencernaan atas. Untuk perlu juga Anda pastikan apa penyebab batuk tersebut. Jika memang keluhan batuk tidak membaik dalam 3hari sebaiknya Anda perlu memeriksakan anak Anda secara langsung ke dokter anak terdekat agar diberikan pengobatan yang sesuai dengan penyebab atau sesuai hasil pemeriksaan. Anda juga sebaiknya meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan konsumsi makanan bergizi dan konsumsi suplemen vitamin. Beberapa tips lain untuk mengatasi keluhan batuk adalah Istirahat cukup Gunakan masker saat keluar rumah Perbanyak minum air hangat Berkumur dengan air garam atau minum lemon yang dicampur madu Hindari minuman dingin dan makanan yang digoreng Konsumsi obat batuk Namun jika keluhannya memburuk sebaiknya ibu segera membawa anak kedokter ya, baca juga forum terkait konsumsi kacang tanah berikut ini Berdebar setelah makan kacang. Salam sehatdr. Evelin KwandangTerima kasih sudah bermanfaat informasi ini bagi Anda?1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaatBeri KomentarButuh beberapa saat untuk menampilkan komentarmu.
cara menggunakan batu kacang tanah